Bulog Sulteng baru serap 10.000 ton beras untuk stok nasional

id beras,bulog,sulteng

Seorang pekerja membongkar beras di Gudang Bulog untuk didistribusikan kepada warga miskin. (ANTARA)

Palu (Antaranews Sulteng) - Perum Bulog Divisi Regional Sulawesi Tengah hingga kini baru menyerap sekitar 10.000 ton beras produksi petani di daerah itu untuk memperkuat stok pangan nasional.

Kepala Bidang Pengadaan dan OPP Bulog Sulteng, Bahar Haruna di Palu, Selasa membenarkan realisasi pengadaan beras di daerahnya masih minim, meski sudah memasuki semester II.

Dia mengaku sangat sulit untuk merealisasi target pengadaan yang telah ditetapkan Bulog, karena selisih harga di tingkat petani cukup tinggi.

Meski Perum Bulog sudah menaikan harga pembelian beras dari RP7.300/kg sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) yang diatur dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2015, kini menjadi Rp8.030/kg, namun tetap masih jauh dari harga patokan pedagang (pihak wasta).

Pedagang mematok harga pembelian di tingkat petani dan pengglingan padi saat ini berkisar Rp9.000/kg. Sementara Bulog membeli beras petani sampai di gudang penampuangan sebesar Rp8.030/kg.

"Ada selisih sebesar Rp970/kg antara pembelian pedagang dengan HPP berasyang ditetapkan pemerintah itu," kata Bahar.

Inilah yang menyebabkan realisasi pembelian beras untuk kebutuhan stok nasional di Provinsi Sulteng sampai pertengahan Juli 2018 ini masih minim.

Bulog tetap terus berusaha untuk bisa memenuhi target pengadaan yang telah ditetapkan tersebut.

Pantau di sejumlah pasar tradisional di Kota Palu, stok beras dikuasai pedagang cukup memadai dan harganyaun relatif stabil.

Sejumlah pedagang beras di Pasar Masomba dan Manonda Palu menjamin stok beras cukup aman karena selain dipasok dari petani lokal, juga didatangkan pedagang dari daerah tetangga seperti Sulsel yang selama ini merupakan sentra produksi beras terbesar di kawasan timur Indonesia.

Harga beras medium di tingkat pengecer paling tinggi Rp9.450/kg dan beras permium Rp12.500/kg.
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar