Kapolda: Posisi DPO Teroris Poso Tidak Bergeser

id kapolda

Dokumentasi: Dua Teroris Poso Tewas Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Rudy Sufahriadi menunjukkan foto dua teroris Poso yang ditembak mati oleh Satgas Operasi Tinombala di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, Selasa (17/5/2016). (ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/16)

Palu,  (antarasulteng.com) - Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Polisi Rudy Sufahriadi menegaskan bahwa sembilan terduga teroris yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Operasi Tinombala di Poso tidak bergeser dari tempat persembunyian mereka saat ini.

"Masih di area pencarian Satgas Operasi Tinombala, tidak bergeser ke daerah lain," katanya kepada wartawan di Palu, Selasa.

Menurut Kapolda, terduga teroris itu tidak akan mencari daerah lain dikarenakan mereka telah menguasai lokasi dan medan setempat serta masih dapat untuk bertahan hidup, sementara pengejaran terus dilakukan oleh Satgas Tinombala.

"Kita bergerak sedikit dan mereka mendengar suara sepatu langsung lari," ujarnya.

Menurut Kapolda, sejak dulu para DPO sudah dalam kondisi terdesak, namun belum juga berhasil ditangkap baik hidup atau mati. Itu karena lokasi pencarian yang luas dan jumlah personel yang semakin sedikit.

Kapolda mengibaratkan kondisi itu seperti kolam ikan, kolamnya tidak berubah, dulu jumlahnya ikan hingga 40, masih banyak yang didapatkan. Namun begitu jumlah ikan tinggal sedikit, kolamnya tetap, tetapi yang menangkap berkurang," katanya memberi analogi.

Sembilan orang DPO yang menjadi target perburuan Satgas Operasi Tinombala yakni Ali Muhammad alias Ali Kalora alias Ali Ambon asal Poso. Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar asal Poso.

Askar alias Jaid alias Pak Guru asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Firdaus alias Daus alias Barok alias Rangga asal Bima NTB. Qatar alias Farel asal Bima NTB. Nae alias Galuh asal Bima NTB. Basir alias Romzi asal Bima NTB. Abu Alim dan Kholid asal Bima NTB.

Operasi Tinombala masih akan berlangsung hingga 3 Juli 2017 dengan personel Polri dan TNI yang masih bertahan saat ini sekitar 1.500 orang.  
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar