Zikir, tahlil dan taziyah akbar 100 hari untuk korban bencana Palu

id Palu,Kota Palu,Tahlil ,Zikir

Sejumlah warga membacakan zikir bagi korban meninggal bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu dalam kegiatan zikir dan tahlil akbar ke 100 hari di Lapangan Vatulemo, Minggu malam (6/1). (Antaranews Sulteng/Muh. Arsyandi)

Palu (Antaranews Sulteng)- Tidak kurang dari seribu warga Kota Palu memadati Lapangan Vatulemo untuk membacakan zikir dan doa tahlil bagi korban meninggal bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang meluluhlahtahkan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah  pada 28 September 2018.

Zikir, tahlil dan tazyiah akbar yang diadakan Pemerintah Kota Palu  pada Minggu (6/1) malam itu diawali dengan shalat magrib bersama lalu . Kemudian dilanjutkan pembacaan zikir.

Usai berzikir, Gubernur Sulteng Longki Djanggola, Wali Kota Palu Hidayat dan Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said dan warga melanjutkan ibadah salat isya berjamaah. Kemudian membacakan doa tahlil yang diniatkan untuk para korban meninggal.

Tidak sedikit warga yang hadir terutama keluarga dari korban menitikkan air mata saat zikir , tahlil dan pembacaan doa keselamatan bagi para korban.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Palu Zainal Abidin saat menyampaikan taziyah di depan ribuan warga mengimbau agar tidak mempermasalahkan zikir dan tahlil yang dilaksanakan.

"Apakah zikir dan tahlil di zaman nabi ada? secara formal tidak. Tapi secara nonformal ada. Di zaman nabi Muhammad SAW doa tahlil dan zikir itu ada dan dibaca sendiri-sendiri. Tidak secara berjamaah seperti sekarang," jelas Zainal.

Diadakannya pembacaan zikir dan tahlil secara berjamaah, menurut Ketua MUI Palu itu, agar lebih banyak warga yang mendoakan dan lebih cepat dikabulkan oleh Allah SWT ketimbang jika dilakukan sendiri.

"Apakah tahlilan ke-100 hari di zaman nabi ada?tidak. Siapa yang mengadakan tahlilan ke 100 hati?wali songo. Apakah mereka salah dan melakukan bidah? mereka itu wali. Wali itu orang-orang yang dimuliakan oleh Allah dan dekat dengan Allah,"kata Zainal.

Itu semua, kata mantan Rektor IAIN Palu tersebut, merupakan metode dakwah yang dilakukan para dai dan para mubalig serta ulama dalam menyebarkan syiar Islam sehingga umat Islam tidak boleh kaku dalam memahami ajaran agama Islam.

"Makanya dalam memahami dan mempelajari ajaran Islam itu jangan setengah-setengah.  Saya  ulangi jangan sepotong-sepotong memahami dan mempelajari ajaran Islam," ujar Zainal.

Sementara itu Wali Kota Palu Hidayat mengajak seluruh warga yang mejadi korban agar mengintropeksi diri dan mengambil hikmah dari  musibah yang menewaskan ribuan jiwa itu. Bencana yang terjadi merupakan ujian dari Allah SWT.

Hidayat berharap melalui ibadah zikir dan tahlil akbar ke 100 hari tersebut menjadi momentum bagi warga yang hadir agar kembali bangkit.

"Dan membangun dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah serta kecintaan kepada Rasulullah SAW," ujarnya.

Pemkot Palu sambung Hidayat, saat ini terus berupaya memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak bagi para pengungsi terutama pangan, hunian sementara dan hunian tetap.

"Agar upaya tersebut dapat segera terealisasi buruh kerjasama dengan seluruh elemen masyarakat dan bergandengan tangan dengan Pemkot Palu," terang Hidayat .
 

Suasana zikir yang dihadiri Gubernur Sulteng Longki Djanggola dan Wali Kota Palu Hidayat di Lapangan Vatulemo, Palu, Minggu (6/1) malam. (Antaranews Sulteng/Humas Pemprov Sulteng)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar