BNPB: masih memungkinkan tinggal di pesisir yang terkena tsunami di Sulteng

id BNPB, pesisir pantai, tsunami

Pekerja dengan alat berat mengerjakan pembersihan jalur irigasi air laut di Kawasan Penggaraman Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14/4/2019) ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc.

Asal ada tempat yang disediakan oleh pemerintah, tapi kalau tidak ada bagaimana sudah, nah penghasilan hanya dari sini
Palu (ANTARA) - Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa para penyintas yang tinggal di wilayah terdampak tsunami di Sulawesi Tengah masih dimungkinkan membangun dan tinggal tak jauh dari pesisir dengan syarat memperkuat mitigasi bencana warga dan penataan kawasan yang baik.

BNPB melalui Deputi Rehabilitasi dan Rekontruksi Harmensyah saat meninjau lahan relokasi untuk korban bencana di Kota Palu, Kelurahan Tondo, Jumat, mengungkapkan bahwa selain relokasi, pemerintah saat ini juga tengah mengkaji berbagai opsi untuk penanganan kawasan pesisir yang terdampak tsunami, termasuk boleh dan tidaknya warga kembali menempati pesisir.

Ia menjelaskan, warga tetap dimungkinkan membangun dan tinggal di lokasi tak jauh dari pesisir, asalkan dengan pembenahan kawasan permukiman yang tanggap serta adaptif terhadap bencana.

Pemerintah daerah sendiri memiliki wewenang dalam penanganan wilayah terdampak tsunami.

"Seperti harus adanya penahan air laut, pepohonan, kontruksi rumah tahan gempa, dan tsunami, serta jalur dan zona evakuasi. Pemerintah daerah setempat juga diminta membuka partisipasi warga penyintas agar opsi yang diambil menjadi kesadaran bersama, terutama dalam hal mitigasi bencana" ujarnya
.
Pascabencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, sejumlah warga di lokasi terdampak tsunami kembali membangun dan beraktifitas di lokasi semula. 

Ini mereka lakukan dengan alasan tak bisa jauh dari sumber ekonominya sebagai nelayan maupun pedagang.

"Asal ada tempat yang disediakan oleh pemerintah, tapi kalau tidak ada bagaimana sudah, nah penghasilan hanya dari sini," ujarnya.***
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar