Upacara Sumpah Pemuda di Morut gunakan Bahasa Mori

id Morut

Upacara Sumpah Pemuda di Morut gunakan Bahasa Mori

Pemuda Morowali Utara mengibarkan bendera Merah Putih pada upacara Hari Sumpah Pemuda 2016 yang menggunakan bahasa daerah Mori, di kawasan perkebunan sawit, Desa Bente, Kecamatan Mori Utara, Jumat (28/10) (Antarasulteng.com/Ale)

Peserta upacara juga mencetuskan 'Deklarasi Generasi Muda Morowali Utara' yang intinya adalah NKRI harga mati.
Kolonodale (antarasulteng.com) - Upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Majaleje (Bente), Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Jumat (28/10) pagi, berlangsung menarik karena upacara yang diikuti 135 orang itu dilakukan dalam bahasa Mori.

Peserta upacara terdiri atas anggota Relawan Monga'e dari beberapa desa termasuk dari daerah Wana, anggota Pecinta Alam (PA) Santiwali, PA Go Green, dan PA Wita Mori. Selain itu, ada pula siswa-siswi pecinta alam (Sispala) dari tiga sekolah di Beteleme yakni SMA Negeri I Lembo, SMK Rahmani dan SMK Lembo Raya.

Lokasi upacara sekaligus tempat perkemahan berada di pinggir gunung yang selama ini dikenal sebagai tempat persembunyian salah seorang tentara Belanda Klick Hammer yang dikejar-kejar tentara Jepang. 
Selama tiga tahun bersembunyi Klick Hammer selalu mendapat suplai makanan dari warga setempat. Dia diyakini banyak membela masyarakat dari kekejaman tentara Jepang.

Upacara dipimpin Ketua Relawan Monga'e Alwun Lasiwua selaku inspektur upacara, sedangkan Komandan Upacara adalah Wilson Adoe. Selama upacara berlangsung, mulai dari susunan acara sampai pada sambutan inspektur upacara dilakukan dalam bahasa Mori. Hanya lagu Indonesia Raya yang tetap dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. 

Dalam sambutannya, Alwun mengatakan ekspedisi dan upacara semacam ini sudah dilakukan delapan kali dengan lokasi berbeda di tempat-tempat situs bersejarah di wilayah Morut. 

Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sekaligus melihat langsung tempat-tempat bersejarah terkait dengan perjuangan rakyat Mori pada era merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

"Mungkin saja ada orang yang menganggap kita orang gila karena membuat upacara di hutan. Tetapi percayalah, ini akan menjadi catatan sejarah karena tidak semua orang bisa melakukannya. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari ekspedisi seperti ini,” kata Alwun yang juga salah seorang pejabat di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Morut itu.

Di sela-sela upacara itu, peserta juga mencetuskan 'Deklarasi Generasi Muda Morowali Utara' yang intinya menegaskan bahwa NKRI harga mati, menolak upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan di Morowali Utara, serta menyatakan mendukung semua kebijakan pemerintah daerah Morowali Utara. Deklarasi itu ditandatangani semua peserta upacara.

Setelah upacara selesai, semua peserta masuk ke hutan tempat persembunyian Klick Hammer. Lokasinya berada di atas gunung. Untuk mencapai tempat itu harus melalui hutan belukar yang masih terjaga rapih karena masuk kawasan hutan lindung. 

Perjalanan itu dipandu Pendeta Peruge yang pernah mendampingi Klick Hammer saat datang kembali melihat lokasi tempat persembunyiannya tahun 1987. Pendeta Peruge menjelaskan semua tempat di gunung batu yang dapat dicapai dengan susah payah itu. 

"Namanya tempat persembunyian, ya pasti tempatnya berat dan tersembunyi. Di sinilah Klick Hammer bersembunyi selama tiga tahun dari kejaran tentara Jepang. Dia bersembunyi di sela-sela batu di puncak gunung ini. Dia bersembunyi karena mau dibunuh tentara Jepang," jelasnya.

Ekspedisi yang dilakukan Alwun dan kawan-kawan dimulai Agustus 2012 dengan mengunjungi Benteng Wulanderi, setelah itu berturut-turut ke Benteng Pelua di Tingkea`o, Halumpuu Wawopada (2013), Ensa Ondau Korompeli (2013), Paantobu (2014), Paantobu (2015), Benteng Matandau Sampalowo (2016) dan Majaleje Bente/Peonea (2016).

Semua kegiatan ekspedisi dan upacara itu dilakukan pada peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus dan Peringatan Sumpah Pemuda. (ale)


Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar