Pemkab di Sulteng harus dukung peremajaan kelapa

id kadis perkebunan,sulteng, peremajaan, kelapa

Kadis Perkebunan Sulteng, Nahyun Biantong soal peremajaan kelapa dalam di daerah ini. (Anas Masa) (Anas Masa/)

Banyak pohon kelapa yang sudah ditebang petani untuk dijual sebagai bahan baku bangunan baik untuk kebutuhan lokal maupun antarpulau.
Palu, (Antaranews Sulteng) - Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Nahyun Biantong mengatakan pemerintah kabupaten harus mendukung peremajaan kelapa dalam, jika ingin program itu berhasil sesuai harapan pemerintah pusat dah daerah.

"Begitu pula dengan petani, sebab mereka sebagai pelaku utama di lapangan," katanya di Palu, Selasa.

Menurut dia, sebagus apapun program yang akan dilakukan di daerah, jika tanpa dukungan pemkab dan petani di masing-masing kabupaten yang menjadi sasaran peremajaan kelapa, tidak akan berhasil maksimal.

Sebaliknya, jika program dimaksud mendapat perhatian besar dari pemerintah daerah dan juga para petani mendukung sepenuhnya, maka dipastikan peremajaan kelapa di beberapa kabupaten di Sulteng yang telah berjalan tujuh tahun terakhir ini,niscaya akan berhasil dan Sulteng tetap menjadi daerah penghasil kopra di Tanah Air.

Karena itu, Nahyun mengimbau pemerintah kabupaten bersama-sama pemerintah provinsi mendukung program dimaksud agar Provinsi Sulteng ke depan akan menjadi sentra produksi kopra dan kelapa nasional.

Dia mengaku dalam kurun beberapa tahun terakhir ini, produksi kopra Sulteng mengalami penurunan karena bahan baku kelapa semakin berkurang.

Padahal, katanya, pasaran kopra di dalam maupun luar negeri saat ini terbilang lagi bagus. Harga kopra dan kelapa biji di pasaran lokal terus membaik.

Harga kopra di tingkat pengumpul di Palu sekarang ini berkisar Rp6.300/kg dan kelapa biji Rp6.000/butir.

Harga kopra di pasaran sempat naik hingga mencapai Rp11.000/kg.

Nahyun mengatakan turunnya produksi kelapa di Sulteng lebih dikarenakan rata-rata usia pohon kelapa yang ada saat ini sudah tidak produktif.

Sementara itu, petani tampaknya enggan untuk mengganti kembali pohon kelapa yang sudah tidak produktif dan lebih tertarik mengembangkan komoditi perkebunan lainnya seperti menanam kakao, kopi,kemiri,nilam dan komoditi lainnya.

Selain karena harga komoditi-komoditi tersebut jauh lebih bagus, juga memang untuk menanam kelapa butuh waktu cukup lama baru berbuah.

Untuk mendorong kembali petani melakukan peremajaan kelapa dalam di Sulteng, makanya harus ada perhatian serius dari pemerintah daerah.

Salah seorang pengusaha kopra di Palu, Abraham mengaku produksi kopra petani Sulteng kurun beberapa tahun terakhir ini menurun cukup drastis.

Ia tidak merinci, kecuali mengatakan bahwa bisnis kopra tidak lagi sehebat atau sebagus era 80 s/d90an.

Saat itu, kopra memang menjadi komoditi unggulan Sulteng selain cengkih. Tetapi sekarang ini produksi kopra semakin menurun karena bahan baku (buah kelapa) terus berkurang akibat usia pohon kelapa rata-rata sudah tua atau tidak lagi produktif.

Banyak pohon kelapa yang sudah ditebang petani untuk dijual sebagai bahan baku bangunan baik untuk kebutuhan lokal maupun antarpulau.

Kebanyakan batang kepala asal petani Sulteng dijual ke Bali dan selanjutnya diekspor keluar negeri.

Karena itu, program peremajaan kelapa di Provinsi Sulteng perlu digalakkan lebih gencar lagi agar petani bergairah kembali menanam tanaman tahunan tersebut.

Jika tidak, justru menjadi ancaman bagi Sulteng yang dahulunya penghasil, tidak menutup kemungkinan kalau program peremajaan tidak dilakukan maka Sulteng akan menjadi pengimpor kopra atau kelapa biji dari luar daerah.

 
Pewarta :
Editor: Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar