Dirjen Bina Marga tinjau ruas Kebun Kopi, bawa pesan khusus Menteri PUPR (vidio)

id BPJN,BINA MARGA,KEBUN KOPI

Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Murwanto (kanan) dan Kepala BPJN XIV Akhmad Cahyadi menyaksikan pekerjaan manajemen lereng pada ruas jalan nasional Tawaeli-Toboli (Kebun Kopi), Sulawesi Tengah, Selasa petang (15/5) (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Dirjen Bina Marga: kami bukan dinas kebersihan, nanti ada longsor baru kita turun membersihan.
Palu (Antaranews Sulteng) - Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dr Ir Arie Setiadi Murwanto, MSc meninjau proyek strategis nasional penanganan jalan negara ruas Tawaeli-Toboli, Sulawesi Tengah, yang sedang dikerjakan dengan anggaran APBN 2017 dan 2018 sekitar Rp200 miliar.

"Terkait ruas jalan Kebun Kopi ini, ada pesan khusus dari bapak menteri (Menteri PUPR) bahwa kita (Ditjen Bina Marga-red) bukan dinas kebersihan, kalau ada longsor baru kita turun membersihkan," katanya kepada Antara di lokasi proyek kilometer 26 ruang Tawaeli-Toboli atau yang lebih dikenal dengan ruas Kebun Kopi itu, Selasa malam.

Sesuai pesan pak menteri, katanya, Ditjen Bina Marga itu adalah institusi yang bekerja dengan perencanaan yang baik, karena itu, penanganan ruas Tawaeli-Toboli yang terkenal dengan ruas jalan yang paling sering longsor baik lereng atas maupun bawah itu, harus terencana secara matang.

Kondisi rawan longsor seperti di ruas Kebun Kopi ini, menurut Dirjen, terjadi hampir merata di Sulawesi Tengah sehubungan dengan adanya patahan jalur gempa tektonik yang terus bergerak sehingga potensi kondisi geoteknik seperti ini cepat sekali berubah.

"Namun ke depan, penanganan ruas jalan ini harus dan akan lebih baik," kata Arie Setiadi yang didampingi Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Makassar Miftakul Munir dan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Sulteng-Sultra Akhmad Cahyadi itu.

Ketika ditanya apakah akan ada percepatan-percepatan penanganan jalur Kebun Kopi yang ditetapkan sebagai proyek strategis nasional dengan Inpres No.3 Tahun 2018 itu, Dirjen BM Arie Setiadi membenarkan hal itu.

"Kita akan pelajari terus tipologi wilayah ini dan kalau kita sudah yakin betul (firm) dengan sebuah disain yang tepat, maka kita tidak akan ragu-ragu lagi untuk menyuntikkan dana untuk menangani ruas ini, sebab kita tidak mau lagi untuk bekerja tambal sulam seperti pengalaman yang lalu-lalu," katanya tegas.

Ia sudah meminta semua jajaran di BBPJN Makassar dan BPJN XIV Sulteng-Sultra agar terus belajar karena selalu ada ruang untuk penyempurnaan. Jangan membuat kesalahan yang sama seperti yang lalu-lalu, paket-paket berikutnya harus lebih baik," ujarnya.

Dari ruas jalan Kebun Kopi, Dirjen BM Arie Setiadi meninjau lokasi pembangunan kantor BPJN XIV di Jalan Soekarno-Hatta Palu dan menanam pohon penghijauan di lokasi tersebut.
Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Murwanto (duduk) menanam pohon penghijauan di lokasi pembangunan kantor BPJN XIV di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Palu, Selasa (15/5) malam. (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)


Selesai 2022

Kepala BPJN XIV Ditjen Bina Marga Kemen PUPR Akhmad Cahyadi mengatakan bahwa saat ini, penanganan ruas Kebun Kopi saat ini terdiri atas dua paket yakni pertama rekonstruksi dan penanganan lereng Nupabomba-Kebun Kopi-Toboli sepanjang enam kilometer yang menghabiskan dana APBN tahun jamak (2017-2018) sebesar Rp123,2 miliar dan dikerjakan kontraktor PT. Wasco SP-KSO.

Paket kedua adalah rekonstruksi dan penanganan lereng Tawaeli-Nupabomba-Kebun Kopi-Toboli (4 km) menggunakan dana APBN tahun jamak (2017-2018) sebesar Rp74,7 miliar dikerjakan PT. Tunggal Mandiri Jaya (TMJ).

"Kontrak kedua paket itu akan berakhir atau selesai pada September 2018, namun secara keseluruhan, penanganan ruas Tawaeli-Toboli ini diharapkan tuntas pada 2022," kata Cahyadi dan menambahkan, kriteria selesai dimaksud adalah bahwa pada 2022 nanti, ancama ,ongsor di sepanjang ruas Tawaeli=Toboli itu sudah sangat minimal.

Baca juga: 95 persen jalan nasional di Sulteng sudah mantap (Vidio)

Sedangkan Penanggung jawab Pelaksana Kegiatan (PPK) 9 Satker II BPJN XIV Julian Situmorang mengemukakan pekerjaan utama dalam kedua paket proyek ini adalah penanganan lereng untuk meminimalisasi longsor dikemudian hari.

Dalam penanganan longsor itu, pada lereng atas dilakukan reslope (menurunkan tingkat kemiringan lereng) dari rata-rata 75 derajat menjadi 55 derajat, lalu lereng itu ditutup dengan alat tertentu yang terbuat dari bahan plastik yang disebut `material geogrid` untuk menahan longsoran batu besar kemudian dilapis dengan `erotion mat` untuk mengontrol erosi sekaligus media tanam untuk tumbuhan merambat guna meminimalisasi longsoran.

"Sekitar 80 persen dari anggaran proyek ini diserap untuk pekerjaan lereng (manajemen lereng). Ketinggian lerengnya saja ada yang mencapai 90 meter dari badan jalan," ujar Julian dan menambahkan, progres pelaksanaan fisik proyek untuk kedua rekanan tersebut saat ini masing-masing 40 persen untuk PT.Wasco dan 30 persen untuk PT.TMJ.

 
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar