Unicef-Kemenag Palu koordinasi mengenai imunisasi MR

id unicef,vaksin,imunisasi,MR,kemenag

Gubernur Sulteng Longki Djanggola menyaksikan penyuntikan vaksin measles rubella (MR) pada pencanangan imunisasi massal MR di sela acara puncak Peringatan Harganas Tingkat Provinsi Sulteng di Parigi, Minggu (12/8) (Antaranews Sulteng/Humas Pemkab Parimo) (Antaranews Sulteng/Humas Pemkab Parimo/)

Palu (Antaranews Sulteng) - United Nations Children's Fund (Unicef) dan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Palu, Kamis, melaksanakan koordinas terkait perkembangan pemberian imunisasi vaksin Measles Rubella (MR) atau campak rubella di daerah tersebut.

Pertemuan yang dilakukan di ruang Asisten I Pemerintah Kota (Pemkot) Palu itu membahas salah satu penyebab rendahnya pencapaian target imunisasi MR di Kota Palu, yang terkait label halal haramnya penggunaan vaksin tersebut di tubuh manusia.

Kepala Seksi Bimbungan Masyarakat Islam (Bimas) Kemenag Kota Palu, Abdul Mun’im Godal saat pertemuan dengan tim dari Unicef mengatakan, sesuai Surat Al-Baqarah ayat 173, babi haram untuk dimakan, namun diperbolehkan bila dalam keadaan darurat, asalkan tidak berlebihan.

Berdasarkan ayat tersebut, kata dia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa No.33 Tahun 2018 yang menyebutkan vaksin MR boleh digunakan karena dalam keadaan darurat dan bahwa penggunaan vaksin tersebut hukumnya mubah atau dibolehkan meskipun mengandung tripsin babi.

“Jika melihat dari aspek manfaat dari imunisasi itu, tentunya sangat baik sekali. Karena menurut penelitian, virus campak rubella sangat berbahaya bagi tumbuh kembangnya generasi bangsa. Makanya MUI membolehkan penggunaan vaksin itu kepada manusia, karena menimbang manfaatnya lebih banyak dibanding mudharatnya,” jelas Mun’im.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Unicef wilayah Sulawesi dan Maluku, Hengky Widjadja mengungkapkan, tahun 2017 lalu, sekitar 35 juta anak Indonesia telah diimunisasi campak dan rubella. Imunisasi MR merupakan program pemerintah dalam menanggulangi bahaya penyakit campak dan rubella terhadap anak-anak.

Karena itu pemerintah menargetkan 95 persen imunisasi bisa terlaksana pada 2018 ini.

Terkait beredarnya foto maupun video mengenai dampak yang dialami anak-anak pascaimunisasi, Hengky menegaskan bahwa hal tersebut terjadi bukan saat peristiwa vaksinasi MR.

"Memang usai diimunisasi, biasanya akan timbul gejala demam. Namun tim medis telah mengantisipasi hal itu dengan menurunkan tim kejadian pascaimunisasi,” kata Hengky.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu dr Royke Abraham mengatakan program imunisasi MR di Kota Palu masih jauh dari target.

Hingga 26 Agustus 2018, realisasi vaksinasi baru 22 persen dari target 62 ribu anak usia 7-15 tahun, seharusnya sudah mencapai 80 persen. 

 
Kepala Perwakilan UNICEF Regional Sulawesi dan Maluku Hengky Widjaja (ketiga kanan-belakang) bersama Kadis Kesehatan Palu Royke Abraham (kedua kanan depan), Kadis Pendidikan Ansyar Sutiadi (ketiga) dan Asisten I Sekkot Kota Palu Muh Rifani (keempat kanan) usai berdialog tentang program kampanye imunisasi MR di Kota Palu di ruang kerja Asisten 1, Kamis (6/8). (Antaranews Sulteng/ Muh. Arsyandi ) (Antaranews Sulteng/Arsyandi)
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar