Menkeu: pantau kondisi global jaga pergerakan rupiah

id menkeu,sri mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama.)

Kondisi global dan dinamika yang ada, itu harus kita jaga dan waspadai serta bagaimana menjaga ekonomi kita agar bisa 'absorb' itu
Jakarta,  (Antaranews Sulteng) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pantauan terhadap kondisi global akan terus dilakukan untuk menjaga pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang rentan dari tekanan eksternal.

"Kondisi global dan dinamika yang ada, itu harus kita jaga dan waspadai serta bagaimana menjaga ekonomi kita agar bisa 'absorb' itu," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa.

Sri Mulyani memastikan pergerakan rupiah yang cenderung kembali melemah masih dipengaruhi oleh situasi ketidakpastian global akibat normalisasi kebijakan moneter The Fed.

Namun, ia memastikan pemerintah terus melakukan pembenahan fundamental perekonomian dengan menekan defisit neraca transaksi berjalan (CAD) untuk stabilisasi mata uang rupiah.

Proses pembenahan tersebut, tambah dia, bisa meningkatkan kepercayaan pelaku pasar atas daya tahan perekonomian nasional terhadap gejolak eksternal.

"Mengenai CAD, saya rasa kita sudah membahasnya dalam sidang kabinet. Langkah-langkah yang dilakukan kementerian lembaga, koordinasi dengan dunia usaha dan BI maupun OJK. Kami akan jalankan terus," katanya.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore menguat tipis dua poin menjadi Rp14.828 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.830 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah menguat meski tipis seiring munculnya optimisme baru mengenai perbaikan hubungan dagang Amerika Serikat-Tiongkok," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

Ia mengemukakan optimisme terlihat ketika Perdana Menteri China Li Keqiang menyatakan kesediaannya untuk memperbaiki perdagangan bebas melalui diskusi.

"Diharapkan ada titik cerah sehingga meningkatkan kembali kepercayaan pelaku pasar terhadap aset berisiko," katanya.

Kendati demikian, dolar AS masih cukup solid terhadap mayoritas mata uang utama dunia karena sebagian pelaku pasar masih khawatir ketidakpastian di Eropa mengenai Brexit (pemisahan Inggris dari Uni Eropa) dan perlambatan ekonomi global.

"Arus dana masih cenderung menuju ke aset 'safe haven' seperti dolar AS, kondisi itu menguntungkan bagi mata uang AS," katanya.
Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar