Donggala rangkul pengusaha kembangkan budidaya udang intensif manfaatkan tambak tidur (vidio)

id DKP Donggala,Ali Assagaf,tambak udang,surumana

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Donggala Ali Assagaf (kiri) saat menerima tim dari DKP Provinsi Sulteng di Donggala, Kamis (18/7) (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

"Sebanyak 20 persen dari hasil bersih penjualan dikembalikan kepada petambak," ujar Ali Assagaf
Palu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, merangkul pengusaha swasta untuk mengembangkan budidaya udang vaname dengan teknologi intensif  melalui pemberdayaan areal tambak yang selama ini masih 'tidur'.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Donggala Ali Assagaf yang dihubungi di Donggala, Selasa, mengemukakan pengembangan budidaya udang vaname itu melibatkan pengusaha secara perorangan yang menanam modal sekitar Rp8 miliar dengan pola kemitraan atau pemberdayaan.

Dalam operasionalnya, kata Ali, pengusaha tersebut bermitra dengan kelompok petambak Bandeng Jaya di Desa Surumana, yang memiliki areal tambak potensial sekitar 50 hektare yang selama ini belum dikelola dengan baik.

Pengusaha dan para petambak Bandeng Jaya tersebut mengikat kerja sama kemitraan selama 10 tahun, dimana pengusaha tersebut memodali petambak untuk memperbaiki tambak mereka dan menyediakan sarana produksi yang dibutuhkan dalam menerapkan teknologi budidaya yang intensif.

Menurut Ali, pengelolaan tambak itu sendiri dikerjakan oleh para anggota kelompok budidaya yang juga pemilik tambak dan semuanya mendapatkan upah dari pengusaha mitra sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain menyediakan benih serta sarana produksi seperti benih kapur, pupuk, pakan dan obat-obatan, serta pendampingan, pengusaha mitra juga menjadi penampung produksi yang bertanggung jawab untuk menjual hasil produksi dengan pola bagi hasil.

"Sebanyak 20 persen dari hasil bersih penjualan dikembalikan kepada petambak," ujar Ali.

Baca juga: Kadis Perikanan Donggala Ali Assagaf dilantik di atas kapal ikan
Baca juga: Pemkab Donggala Genjot Pembangunan Sektor Perikanan
Hamparan tambak di Desa Surumana, Kabupaten Donggala, yang siap dikelola secara intensif (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Ia menilai pola bagi hasil ini cukup menguntungkan petambak karena seluruh modal usaha sepenuhnya ditanggung pengusaha mitra dan para petambak yang sehari-hari bekerja juga sudah mendapatkan upah.

"Sesuai kesepakatan kedua belah pihak, pola bagi hasil ini akan mengalami penyesuaian sesuai perkembangan usaha dengan prinsip saling menguntungkan," katanya.

Sejak kerja sama pemberdayaan ini dimulai pada 2018, areal tambak yang sudah berhasil dipanen mencapai 40 petak atau sekitar 10 hektare dan sudah menghabiskan biaya investasi dan modal kerja sebesar Rp7,3 miliar.

Setiap kali panen, lahan tambak ini dikalkulasi menghasilkan 183 ton atau rata-rata 18 ton/hektare udana vaname ukuran 50 ekor/kg yang dipasaran umum berharga rata-rata Rp75.000/kg.

"Jadi usaha budidaya udang ini dalam sekali panen bisa menghasilkan keuntungan Rp6,4 miliar atau 71 persen dari modal," ujarnya dan menambahkan, 20 persen dari keuntungan itu dikembalikan kepada para pemilik tambak.

Ali juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun kebijakan pengembangan sektor perikanan dengan menetapkan tiga klaster pengembangan yakni Klaster I untuk transfer teknologi di Kecamatan Sojol dan Banawa, Klaster II untuk pengembangan perikanan tangkap di Labean dan Ogoamas serta Klaster III untuk pengolahan ikan di Lero dan Tanggolobibi.
 

 
Pewarta :
Editor : Muhammad Hajiji
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar