Menkominfo antisipasi kekurangan talenta digital hadapi industri 4.0

id rudiantara,kominfo

CEO PT Alita Praya Mitra Ita Yuliati (kanan) menerima penghargaan dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) yang diserahkan Menkominfo Rudiantara, pada peringatan HUT ke-25 Mastel, di Jakarta, Kamis (13/12/2018). Ita yang telah 36 tahun berpengalaman dalam industri telekomunikasi, memperoleh penghargaan dari Mastel untuk kategori Woman Entrepreneur in Telecommunication. (ANTARA FOTO/Audy Alwi/hp.)

Ada 20 ribu talenta digital yang akan kami didik dan disertifikasi. Sertifikasinya mengenai kompetensi teknologi, bukan sekadar pengetahuan umum, tetapi lebih keterampilan

Jakarta,  (Antaranews Sulteng) - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan pemerintah telah mengantisipasi kekurangan sumber daya manusia atau talenta digital dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Rudiantara di Jakarta, Sabtu malam, menyebutkan Indonesia diproyeksi kekurangan SDM digital 600 ribu per tahun. Proyeksi itu mengacu dari data McKinsey yang menyebutkan, Indonesia mengalami kekurangan atau "gap" 9 juta talenta digital hingga 2030. ?

"Ada 20 ribu talenta digital yang akan kami didik dan disertifikasi. Sertifikasinya mengenai kompetensi teknologi, bukan sekadar pengetahuan umum, tetapi lebih keterampilan," kata Rudiantara saat ditemui usai menghadiri peringatan 10 tahun Young Leaders for Indonesia (YLI).

Tahun ini, Kementerian Kominfo telah mengalokasikan dana Rp109,4 miliar untuk program digital talent scholarship. Dari program ini, pemerintah menargetkan ada 20 ribu talenta digital yang mendapat sertifikat tahun ini.

Setelah mendapatkan pendidikan, para talenta digital dapat bekerja di perusahaan atau menjadi wiraswasta. Selain itu, program ini akan menghubungkan dengan platform karir.com yang terhubung langsung ke perusahaan.

Rudiantara menyebutkan bahwa sertifikasi tersebut tidak hanya berlaku di Indonesia saja, tetapi juga di Asia Tenggara. Menurut dia, sertifikasi talenta digital merupakan upaya pemerintah untuk proaktif menyiapkan sumber daya yang kompeten di era industri 4.0.

Ia menambahkan bahwa industri 4.0 tidak serta merta menghilangkan lapangan pekerjaan, justru banyak potensi pekerjaan baru yang tercipta.

Misalnya,? pembangunan satu juta rumah yang awalnya menggunakan tenaga manual memerlukan waktu lama, setelah ada teknologi 3d printing pembangunannya bisa lebih cepat, bahkan selesai dalam satu hari.

"Lalu pekerjaan tukang semen kemana? justru itu harus dibimbing dulu, misalnya menjadi operator 3d printing. Kalau menurut saya, lebih banyak potensi lapangan pekerjaan baru dibanding pekerjaan yang hilang," kata dia.

Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar